Jumat, 13 Juli 2012

Legenda pintu bledhek ( petir )


     Petir atau halilintar adalah gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan di mana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan biasanya disebut kilat yang beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar sering disebut Guruh. Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya.

Dalam ilmu sains, ada tokoh yg terkenal bisa menangkap petir. yaitu Benjamin Franklin.( 1706 – 1790 )

Image
Benjamin Franklin


                Konon, menurut sahibul hikayat sains, Benjamin Franklin, suka bermain layang-layang. Suatu saat ia iseng betul dan ingin menjajal layang-layangnya untuk menangkap petir. Tahun 1752, bersama anaknya yang berusia 21 tahun ia melakukan percobaan menangkap petir untuk membuktikan kalau petir itu listrik. Dalam percobaannya mereka memasang kunci logam di pangkal benang layang-layang yang ia pegang. Benang dengan tali yang dilumuri serbuk besipun ia gunakan. Bapak dan ank pun nekat, bermain layang-layang ketika petir menyambar dan hujan turun. Dan ajaib, petir memang menyambar layang-layangnya, arus listrik pun mengalir menuju pangkal benang dimana kunci berada maka itulah saat ia mengetahui  cara menangkap petir dan kelak akan melahirkan pengetahuan baru tentang kelistrikan. 


            jauh sebelum Benjamin Franklin lahir ada orang jawa yang bisa menangkap petir dengan tangan terbuka kemudian mengikatnya di pohon. hmmm….lebih hebat bukan?

dialah kiAGENG SELO. beliau yg menurunkan Raja-Raja tanah jawa setelah kerajaan Demak surut.
beliau adalah kakek KiAgeng Pamanahan yg menurunkan Sutawijaya , yg kemudian bergelar SENOPATI ING ALOGO , raja mataram pertama.

…..Alkisah, suatu hari KiAgeng Selo sibuk bekerja mencangkul disawahnya yg terbentang luas. mendadak hari menjadi mendung, sebentar kemudian hujan datang dg derasnya. terpaksalah kiAgeng Selo berhenti mencangkul. sambil menggerutu sendirian ;” sawah iki kemendungan”. padahal beberapa ratus meter disekitarnya tidak mendung dan tidak hujan. pantaslah ki Ageng Selo segera pindah mencangkul di sawahnya yg tdk kemendungan.

       tetapi alangkah terkejutnya,  mendadak mendung dan kilat datang lagi seperti sedang mengejarnya.entah bagaimana mulanya sat itu terjadi pertempuran antara kiAgeng Selo dg bledeg yg sedang menyamgar kearah kepalanya..demi untuk keselamatan jiwanya, maka kemudian ki Ageng Selo berdiri tegak ditengah sawah sambil tangan kanannya menuding kearah bledeg yd sedang mengamuk.
begitu bledek melihat musuhnya sedang berdiri tegak, seketika ” DUUOOOORRRRR ” kepala ki  Ageng selo disambarnya. 
sebagian murid beliau yg kebetulan menyaksikan peristiwa itu mengira gurunya akan hancur lebur seketika. seperti tidak percaya  mendadak mata mereka dikejutkan oleh pemandanggan yg aneh. sekonyong-konyong seperti ada benda raksasa serem dan menakutkan telah diikat dg damen (merang) oleh sang guru sakti itu.di pohon Gandri.

          peristiwa kiAgeng Selo menangkapbledek hidup-hidup dg tangan kosong tsb, dalam waktu singkat terdengar oleh pihak keeraton demak. kemudian diutuslah beberapa prajurit agar supaya selekas mungkin memebawa bledeg tsb ke Demak. kiAgeng selo memepersilahkan bledeg di bawa ke Demak , biarlah kalau memang raja berkeinginan melihat bledeg. hanya dalam hatinya berkata ;” biarlah nanti kita liahat saja apa kemauan sultan demak sebenarnya. apa akan dijadikan tontonan umum di demak? ataukah ada maksud lain? “
                 bledeg yg dibawa utusan raja , setalah sampai di demak langsung dibawa masuk ke masjid. berbondong-bondong penduduk menuju masjid untuk melihat bledek tsb. termasuk mbahe mbahane mbahane mbahane buyute mbahe aku saat itu juga meyaksikan peristiwa tsb.  tentu tidak dipungut biaya alias grratiiis. he..he..
 
          sementara itu diperintahkan juru lukis untuk menggambar bledeg tsb. ternyata untuk melukis bledeg idak segampang yang di sangka orang.pelukis sekelas Afandi mungkin tidak bisa menyelesaikan dalam waktu singkat.  konon bledeg yg sedang dilukis tsb selalu berubah bentuknya..hari ini bentuknya begita besoknya berubah begitu.

      rikolo semono sang pelukis baru saja menyelesaikan bagian kepala dari model bledeg tsb, skonyong-konyong koder datanglah seorang perempuan tua ke masjid sambil membawa “beruk” ( boso jowone tempurung kelapa ) berisiair.  nenek tsb mendekati bledeg kemudian menyiramkan air dari beruk kearah bledek. sekeitika bledeg meledak ” DUUUAAAAARRRR” .sang pelukis dan orang yg disekitarnya terpental beberapa centimeter. bersamaan dg itu berubahlah nenek tsb menjadi seorang laki-laki berjubah putih yg dlm waktu sekejap netra lenyap dari pandangan mata orang-orang yg ada disekitar itu.

        orang berjubah putih itu tidak lain adalah kiAgengSelo yg tdk sampai hati melihat bledeg dijadikan bintang model dan jadi tontonan di demak. meskipunbledeg yg telah ditangkapnya itu sebelumnya hendak mengancam jiwanya. orag yg memilki sifat jahat dan berbahaya bagi keselamataan manusia kalau bisa ditundukkan ke arah yg baik kelak pasti ada manfaatnya.

       lukisan  bledeg ( lebih tepatnya ukiran ) yg belum selesai tsb kemudian dijadikan pintu masjid raya DEMAK. dan disebut ” pintu bledeg” .letaknya membatasi pendopo masjid dg ruangan dalam. jadi setiaporang yg hendak bersembahyang di masjid demak selalu dapat melihat pintu bledeg tsb.

Image
pintu bledeg

         menurut keterangan petugas masjid Demak, dulu memang pintu bledeg dipasang didalam masjid,  tetapi utk menghindari kerusakan akhirnya pintu bledeg yg asli disimpan di museum masjid Demak. lokasinya ada disebelah utara masjid. sedangkan sebagai gantinya dipasang pintu bledeg tiruan.
akhirul kalam…..ujare mbahe, sebenarnya yang dimaksud pintu bledeg ialah ” sanepo ” atau hanya kiasan dan sindiran. Bledeg itu sebetulnya gambaran dari hawa angkara murka yg dimiliki setiap orang.  oleh karena itu sebelum orang bersembahyang  dimasjid demak diingatkan bahwa dalam dirinya ada hawa angkara murka yang harus diperangi setiap saat.
bukankah Sholat itu bisa mencegah dari kerusakan dan keangkaramurkaan!!
waAllahu a’lam.

1 komentar: